Cara Membuat Jus Buah & Sayur

Saturday, May 10, 2008

Sari buah dan sayur dapat dibuat dengan berbagai cara. Tidak memiliki juicer listrik tidak menjadi halangan untuk membuat jus. Hanya berbeda saja cara mengolahnya, tentu saja supaya sama-sama mendapatkan hasil yang maksimal.

Blender

Juicer

Buah dan sayur:

- diparut

- diperas dengan kain kasa/disaring dengan saringan

Jangan dicampur dengan air

Buah dan sayur:

- dicuci/disikat bersih

- dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam juicer

Jika ampas belum terlalu kering, masukkan kembali ampas ke dalam juicer agar semua sarinya dapat dimanfaatkan

Jangan ditambah air

1 gelas = 250 cc = 250 ml

Pilihlah buah dan sayur yang masih segar, dan simpan dalam refrigerator untuk menjaga kesegarannya, tetapi jangan terlalu lama. Penyimpanan jus dalam refrigerator jangan melebihi 24 jam untuk meghindari degradasi nutrisi dalam jus tersebut lebih lanjut.

Khasiat Jus

Tahukah Anda bahwa jus buah dan sayuran yang selama ini kita nikmati ternyata mengndung berbagai khasiat yang berguna bagi kesehatan? Jus sangat efektif untuk proses penyembuhan berbagai penyakit karena di dalam jus terkandung berbagai vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang telah terekstrak dari serat-seratnya sehingga lebih cepat diserap oleh tubuh jika dibandingkan dengan konsumsi buah dan sayur secara utuh.

Konsumsi buah dabn sayur dalam jumlah banyak sulit dilakukan karena volumenya besar, sementara kapasitas lambung sangat terbatas. Untuk memperbesar daya terima lambung dan meningkatkan asupan zat-zat yang terkandung yang terkandung dalam sayur dan buah, dapat dilakukan dengan membuat jus. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan obat-obatan konvensional mampu menyembuhkan penyakit hanya sekitar 30 persen saja. Sedangkan 70 persen penyembuhan utama adalah dengan makanan, terutama makanan yang bergizi tinggi.

Salah satu alternative makanan sehat itu adalah dengan mengolahnya menjadi jus. Jus buah dan sayuran yang sehat dengan cepat akan diserap oleh tubuh. Penyembuhan dengan jus merupakan solusi yang tepat untuk menyiasati agar jus yang dibuat dengan memanfaatkan tanaman obat tetap enak dinikmati, tanpa mengurangi khasiat obatnya.

Bagi orang-orang sibuk, membeli jus instant menjadi pilihan utama. Padahal, sebenarnya membuat jus tidak perlu ketrampilan khusus. Proses pembuatannya pun sangat sederhana. Sekarang, tidak perlu menunggu lama, siapkan juicer atau blender, serta buah dan sayurnya! Selanjutmua, blog ini akan membantu anda dalam menyajikan jus yang berkhasiat membantu proses penyembuhan penyakit anda.

Serat Khitosan Mengikat Lemak

Sunday, April 13, 2008

KITOSAN adalah serat polimer alami yang mampu menghambat penyerapan lemak dan kolesterol oleh tubuh. Karena itu, sekarang banyak produk kapsul kesehatan yang mengandung kitosan dengan klaim dapat menyerap lemak, kolesterol, dan menurunkan berat badan.

Kitosan adalah turunan kitin yang diisolasi dari kulit udang, rajungan, kepiting, dan kulit serangga lainnya. Kitosan merupakan kopolimer alam berbentuk lembaran tipis, tidak berbau, berwarna putih, dan terdiri dari dua jenis polimer, yaitu poli (2-deoksi-2-asetilamin-2-glukosa) dan poli (2-deoksi-2-aminoglukosa) yang berikatan secara beta (1,4).

Kitosan merupakan produk deasetilasi kitin melalui proses reaksi kimia menggunakan basa natrium hidroksida atau reaksi enzimatis menggunakan enzim chitin deacetylase. Serat ini bersifat tidak dicerna dan tidak diserap tubuh. Sifat menonjol kitosan adalah kemampuan mengabsorpsi lemak hingga 4-5 kali beratnya.

Sejarah penemuan kitin dimulai, 1811, oleh Henri Braconnot sebagai hasil isolasi dari jamur, sedangkan kitin dari kulit serangga diisolasi pertama kali 1820-an. Kitosan ditemukan C Roughet , 1859, dengan memasak kitin dan basa seperti pembuatan sabun.

Perkembangan penggunaan bahan alami, akhir 1970-an, meningkatkan konsumsi kitosan, terlebih dengan beberapa penemuan baru untuk aplikasi kitosan di bidang farmasi dan kesehatan di akhir 1990-an hingga sekarang. Saat ini kitosan amat diminati karena bisa menurunkan kadar kolesterol, asam urat, pengikat lemak sekaligus pelangsing tubuh.

Pengikat lemak

Seperti serat dari tanaman, kitosan tidak bisa dicerna sehingga tidak mempunyai nilai kalori. Sifat ini sangat penting untuk produk-produk pelangsing tubuh. Tetapi, tak seperti serat lain, kitosan mempunyai daya pengikatan lemak yang sangat tinggi (superabsorban) sehingga mampu menghambat absorpsi lemak oleh tubuh.

Kitosan juga berbeda dengan serat lain yang netral atau asam, karena sebagai serat basa mampu mengabsorpsi gugus asam dengan adanya gugus amino pada rantai polimernya.

Kitosan adalah serat yang tidak diabsorpsi sehingga bila lemak terikat dengannya akan menjadi senyawa yang tak diabsorpsi pula. Hasil penelitian secara in vivo pada hewan percobaan menunjukkan, hewan yang diberi makanan mengandung kitosan mampu mengekskresi lemak di kotorannya hingga 5-10 kali serat lain.

Penelitian di ARS Medicina-Helsinki menunjukkan bahwa penggunaan kitosan selama empat minggu mampu menurunkan berat badan manusia rata-rata delapan persen.

Kitosan mampu menurunkan kolesterol LDL (kolesterol jahat) sekaligus meningkatkan komposisi perbandingan kolesterol HDL (kolesterol baik) terhadap LDL, sehingga peneliti Jepang menyebutnya hypocholesteromic agent yang efektif, karena mampu menurunkan kadar kolesterol darah tanpa efek samping.

Mekanisme pengikatan

Mekanisme pengikatan lemak oleh kitosan belum dimengerti secara utuh dan menyeluruh. Tetapi, sejumlah pengamatan penelitian mendukung terjadinya dua mekanisme dasar pengikatan.

Pertama, melibatkan tarik menarik dua muatan yang berbeda/berlawanan, layaknya tarikan kutub-kutub magnet. Jadi, kitosan yang mempunyai gugus-gugus bermuatan positif akan menarik muatan negatif dari asam-asam lemak dan membentuk ikatan yang tak bisa dicerna.

Kedua, penetralan muatan. Dalam model ini kitosan akan menyelubungi sisi aktif lemak dan melindunginya dari serangan dan penguraian enzim-enzim lipida.

Untuk meningkatkan efektivitas pengikatan lemak, kapsul kitosan dicampur dengan asam sitrat, vitamin C (asam askorbat), dan indol. Penambahan asam askorbat meningkatkan jumlah lemak yang hilang sebagai feses, 87 persen, dan menurunkan penyerapan lemak oleh tubuh hingga 50 persen.

Penambahan asam askorbat juga berfungsi sebagai antioksidan untuk mengurangi jumlah radikal bebas-berperan dalam pembentukan oksida kolesterol-yang diduga memicu terjadinya penyakit hati.

Eriawan Rismana Pusat P2 Teknologi Farmasi dan Medika, BPPT, Jakarta

Teh Hijau dan Kesehatan Gigi

“Sora no shite oki kunate…..

Mendengar lagu tersebut, temen-temen pasti inget iklan teh hijau NU Green Tea di TV.

Teh hijau (Camellia sinensis) selain memberikan kesegaran, ternyata juga memberikan efek kesehatan, terutama kesehatan gigi. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan di Jepang, bahwa pada murid-murid Sekolah Dasar yang mengkonsumsi minuman teh hijau setiap hari secara terus menerus dan teratur ternyata kasus karies gigi hampir tidak ditemukan.

Apa Sih Karies Gigi Itu?

Karies gigi sangat mudah terjadi, terutama pada orang dengan oral hygiene (kebersihan rongga mulut) tidak bagus. Karies gigi adalah kerusakan email atau lapisan pelindung yang menyebabkan gigi berlubang. Angka karies gigi (gigi berlubang) di Indonesia sangat tinggi. Hasil penelitian Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 60-80% murid Sekolah Dasar menderita karies pada gigi permanennya. Prevalensi karies gigi telah mencapai 95%, sedangkan karies gigi dan penyakit jaringan penyangga gigi telah menduduki peringkat pertama (32%) daftar morbiditas penyakit gigi di Indonesia. Kedua penyakit gigi ini sangat serius karena merupakan focus infection yang dapat memicu timbulnya penyakit infeksi lain yang lebih serius antara lain: sepsis, Subbacterial Endocarditis, penyakit pencernaan makanan dan penyakit degeneratif seperti kanker rahang.

Karies gigi sebagai salah satu jenis kerusakan gigi yang progresif dapat terjadi pada email, dentin, dan akar gigi. Karies gigi merupakan penyakit yang multifaktorial dengan penyebab utama kuman (bakteri), faktor kedua adalah host dan faktor ketiga adalah substrat. Karies gigi merupakan proses demineralisasi email. Email/enamel adalah bagian terkeras dari gigi, bahkan paling keras dan padat di seluruh tubuh. Sisa makanan yang bergula (termasuk karbohidrat) atau susu yang menempel pada permukaan email akan menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Bakteri yang menempel pada permukaan bergula tersebut akan menghasilkan asam dan melarutkan permukaan email sehingga terjadi proses demineralisasi. Demineralisasi tersebut mengakibatkan proses awal karies pada email. Bila proses ini sudah terjadi maka terjadi progresivitas yang tidak bisa berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan karies dan dilakukan penambalan pada permukaan gigi yang terkena karies oleh dokter gigi.

Etiologi karies gigi karena kuman (bakteri) pertama kali dikemukakan oleh Miller pada tahun 1982 dengan teorinya Chemico parasitic, yaitu karies gigi disebabkan karena adanya bakteri pada rongga mulut yang sangat kompleks baik pada air ludah maupun pada plak gigi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa karies gigi merupakan penyakit infeksi. Dari bakteri Streoptococcus dalam rongga mulut yang ditemukan ternyata strain Streptococcus mutans yang dapat menyebabkan karies gigi pada permukaan bukal, lingual pit, celah oklusal, dan permukaan akar gigi. Streptococcus mutans merupakan pencetus timbulnya plak gigi karena bakteri ini dapat bertindak sebagai fasilitator berbagai bakteri lain. Plak gigi merupakan penyebab utama terbentuknya karies gigi dan penyakit jaringan penyangga gigi.

Streptococcus mutans merupakan salah satu bakteri komensal rongga mulut yang mempunyai peranan penting terhadap terjadinya karies gigi karena Streptococcus mutans mampu membuat glukosiltransferase (GTF) yang menyebabkan diproduksinya glukan dari sukrosa (gula). Glukan yang terbentuk merupakan massa seperti lumpur, pekat, tidak mudah larut, dan lengket, yang kemudian membentuk plak. Plak merupakan cikal bakal terjadinya karies gigi. Glukan yang bersifat lengket tersebut merupakan salah satu tanda virulensi yang khas untuk Streptococcus mutans. Selain itu, Streptococcus mutans sangat asidogenik sehingga dapat menyebabkan demineralisasi hidroksiapatit dengan pH terminal 3-4 yang dapat menyebabkan terjadinya karies gigi. Pada metabolisme sukrosa, Streptococcus mutans dapat mengubah glukosa menjadi polisakarida intraseluler.

Klasifikasi Teh dan Proses Pengolahannya

Secara umum berdasarkan cara pengolahannya, teh dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Teh hijau dibuat dengan cara menginaktifasi enzim oksidase/fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar dengan cara pemanasan atau penguapan dengan menggunakan uap panas, sehingga oksidasi enzimatik terhadap katekin dapat dicegah. Teh hitam dibuat dengan cara memanfaatkan terjadinya oksidasi enzimatik terhadap kandungan katekin teh. Teh oolong dihasilkan melalui proses pemanasan yang dilakukan segera setelah proses rolling/penggulungan daun dengan tujuan untuk menghentikan proses fermentasi. Oleh karena itu, teh oolong disebut teh semi fermentasi.

Komponen Bioaktif Teh sebagai Zat Antikariogenik

Teh mengandung bermacam-macam zat bioaktif. Zat bioaktif dalam teh terutama merupakan golongan flavonoid. Flavonoid yang ditemukan pada teh terutama berupa flavanol dan flavonol. Selain flavonoid, teh juga mengandung asam amino bebas yang disebut sebagai L-theanin. Katekin teh merupakan flavonoid yang termasuk dalam kelas flavanol. Sedangkan Flavonol utama yang ada dalam daun teh adalah quercetin, kaempferol, dan myricetin. L-theanin (γ-ethylamino-L-glutamic acid) adalah asam amino yang unik pada tanaman teh dan merupakan komponen utama yang bertanggung jawab terhadap exotic taste.

Daun teh mengandung polifenol 30%, kafein 4%, gula dan getah 3%, asam amino 7%, mineral 4%, protein 16%, lemak 8%, klorofil dan pigmen 1.5%, pati 0.5%, serat kasar, lignin, dan lain-lain 22%. Kandungan zat kimia yang paling banyak dalam daun teh hijau adalah polifenol (katekin) sekitar 30%. Katekin teh yang utama adalah epicatechin (EC), epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC) dan epigallocatechin gallate (EGCG). Fenol dan senyawa fenolik lain atau derivatnya dapat menyebabkan denaturasi protein akibat rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri. Fenol dan derivatnya mempunyai sifat antiseptik, anestetik dan kaustik. Persenyawaan fenolat dapat bersifat bakterisidal atau bakteriostatik tergantung pada konsentrasi yang digunakan. Beberapa persenyawaan juga bersifat fungisidal.

Zat polifenol teh telah terbukti mampu mencegah karies gigi. Karies gigi disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Bakteri ini mampu memproduksi glukosil transferase (GTF) yang mengubah sukrosa menjadi glukan dan selanjutnya membentuk plak gigi. Plak ini yang merupakan cikal bakal terjadinya karies gigi. Konsentrasi penghambatan minimal dari polifenol teh terhadap pertumbuhan bakteri kariogenik (penyebab karies gigi) adalah berkisar antara 0.25 – 1.00 mg/ml. Selain mencegah pertumbuhan bakteri kariogenik, polifenol teh juga mencegah adhesi dan menghambat aktivitas GTF sehingga mencegah terbentuknya glukan yang merupakan cikal bakal plak gigi.

Teh hijau memiliki kandungan katekin yang tinggi karena pada pembuatan teh hijau tidak melibatkan proses fermentasi yang merupakan oksidasi polifenol (katekin). Oleh karena itu teh hijau dapat berfungsi sebagai minuman antikariogenik karena masih kaya akan kandungan katekin yang mampu mencegah pertumbuhan bakteri kariogenik. Sedangkan pada teh hitam, kandungan katekin sangat rendah karena pada proses pembuatannya melibatkan proses fermentasi yang merupakan proses oksidasi polifenol (katekin).

Secangkir teh hijau atau sekitar 100 ml mengandung kira-kira 50 - 100 mg polifenol. Dikemukakan juga bahwa efek pencegahan teh hijau terhadap keries gigi ternyata lebih baik dibandingkan fluor yang biasa digunakan dalam pasta gigi. Hal ini karena dalam daun teh hijau juga mengandung Flourida dengan kadar sekitar 35 - 399 ppm. Mekanisme kandungan fluorida dalam teh hijau untuk menghambat Streptococcus mutans dengan cara lain, yaitu menghambat enzim enolase, menghambat translokasi gula dalam sel, menghambat transport kation dan penimbunannya di dalam sel, serta menghambat enzim fosfatase sel yang berfungsi melepaskan fosfat dari gula untuk berikatan dengan fosfat. Apabila satu per satu senyawa yang terkandung dalam daun teh hijau dipisahkan dan dilakukan pengujian sendiri-sendiri terhadap Streptococcus mutans maka daya antibakterinya sangat kecil tetapi bila senyawa-senyawa tersebut digabungkan maka kekuatan antibakterinya akan naik secara dramatik sehingga mampu membunuh Streptococcus mutans.

Komponen Bioaktif Teh

Saturday, April 12, 2008

Teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia. Teh dibuat dari pucuk daun muda tanaman teh (Camelia sinensis L. Kuntze). Berdasarkan proses pengolahannya, secara tradisional produk teh dibagi menjadi 3 jenis, yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Teh hijau banyak dikonsumsi oleh masyarakat Asia terutama Cina dan Jepang, sedangkan teh hitam lebih populer di negara-negara Barat. Sementara, teh oolong banyak diproduksi di negeri Cina (Hartoyo, 2003).

Komponen Bioaktif Teh

Daun teh mengandung polifenol 30%, kafein 4%, gula dan getah 3%, asam amino 7%, mineral 4%, protein 16%, lemak 8%, klorofil dan pigmen 1.5%, pati 0.5%, serat kasar, lignin, dan lain-lain 22%. Kandungan zat kimia yang paling banyak dalam daun teh hijau adalah polifenol (katekin) sekitar 30%. Teh mengandung bermacam-macam zat bioaktif. Zat bioaktif dalam teh terutama merupakan golongan flavonoid. Flavonoid yang ditemukan pada teh terutama berupa flavanol dan flavonol. Selain flavonoid, teh juga mengandung asam amino bebas yang disebut sebagai L-theanin.

  1. Katekin Teh

Katekin teh merupakan flavonoid yang termasuk dalam kelas flavanol. Kandungan katekin ini bervariasi untuk masing-masing jenis teh (Tabel 1). Katekin teh yang utama adalah epicatechin (EC), epicatechin gallate (ECG), epigallocatechin (EGC) dan epigallocatechin gallate (EGCG). Katekin teh memiliki sifat tidak berwarna, larut air, serta membawa sifat pahit dan sepat pada seduhan teh. Hampir semua sifat produk teh (rasa, warna, dan aroma), secara langsung maupun tidak, dihubungkan dengan modifikasi pada katekin ini (Hartoyo, 2003).

Tabel 1. Kadar katekin berbagai jenis teh

Teh/Pucuk Segar

Substansi Katekin (% berat kering)

Catechin

EC

EGC

ECG

EGCG

Total

A. Indonesia:

Teh hitam orthodox

Teh hitam CTC

Teh hijau ekspor

Teh hijau lokal

Teh wangi

Pucuk segar GMB 1

Pucuk segar GMB 2

0,24

0,23

0,10

0,08

0,10

0,70

0,80

0,79

0,27

0,54

0,41

0,35

2,62

1,41

3,54

4,24

6,35

6,39

5,96

2,17

0,61

1,46

1,03

1,08

0,65

0,64

1,22

1,92

2,21

1,25

3,53

3,28

2,23

7,89

9,43

8,24

7,02

11,60

10,81

9,28

14,60

14,15

B. Sencha (Jepang)

0,07

0,41

2,96

0,26

1,36

5,06

C. Oolong (China)

0,14

0,20

2,24

0,43

3,14

6.73

D. Teh wangi (China)

0,15

0,39

3,81

0,69

2,43

7,47

Sumber: Bambang dan Suhartika, 1995; Bambang et al., 1996 Di dalam Hartoyo, 2003

Fenol dan senyawa fenolik lain atau derivatnya dapat menyebabkan denaturasi protein akibat rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri. Fenol dan derivatnya mempunyai sifat antiseptik, anestetik dan kaustik. Persenyawaan fenolat dapat bersifat bakterisidal atau bakteriostatik tergantung pada konsentrasi yang digunakan. Beberapa persenyawaan juga bersifat fungisidal.

  1. Flavonol Teh

Flavonol teh utama yang ada di dalam daun teh adalah quercetin, kaempferol, dan myricetin. Falavonol ini terutama dalam bentuk glikosidanya (berikatan dengan molekul gula) dan sedikit dalam bentuk aglikon-nya. jumlah flavonol teh bervariasi, tergantung pada beberapa hal, misalnya suhu dan cara ekstraksi yang digunakan (Hartoyo, 2003).

Tabel 2. Kadar flavonol teh

Jenis Flavonol

Jumlah (g/kg)

Teh Hijau

Teh hitam

Myricetin

0,83 – 1,59

0,24 – 0,52

Quercetin

1,79 – 4,05

1,04 – 3,03

Kaempferol

1,56 – 3,31

1,72 – 2,31

Sumber : Hartoyo (2003)

  1. Theaflavin dan Thearubigin

Dalam proses pembuatan teh hitam, katekin dioksidasi secara enzimatis membentuk pigmen teh hitam yaitu theaflavin dan thearubigin. Menurut Hartoyo (2003), secara garis besar terdapat empat jenis theaflavin, yaitu theaflavin, theaflavin-3-gallate, theaflavin-3’-gallate, dan theaflavin-2,3’-digallate. theaflavin terbentuk karena adanya reaksi yang terjadi antara quinon (turunan katekin) dengan gallo-katekin.

  1. L-Theanin

L-theanin (γ-ethylamino-L-glutamic acid) adalah asam amino yang unik pada tanaman teh dan merupakan komponen utama yang bertanggung jawab terhadap exotic taste (disebut umami). Senyawa ini unik karena hanya ditemukan pada tanaman teh, pada jamur Xeromonas badius, dan spesies tertentu dari genus Camelia. Jumlah L-theanin alam daun teh berkisar antara 1% - 2% (berat kering). L-theanin terdapat dalam bentuk bebas (non protein) dan merupakan komponen asam amino utama dalam teh dengan jumlah lebih dari 50% dari total asam amino bebas (Hartoyo, 2003).